Catatan Kehidupan
Sarana belajar menjadi pembaca dan penulis
Menghidupkan Kembali Tradisi Membaca

Dulu aku paling senang membaca. Bila sudah asyik membaca, aku tak mau diganggu. Aku sanggup berjam-jam duduk tenang dan menekuni lembar demi lembar buku yang aku baca, sering hingga lupa waktu. Majalah, koran, novel, buku2 psikologi, filsafat agama bahkan hingga buku pelajaran pasti habis aku lahap isinya. Tempat yang paling menyenangkan bagiku kala itu adalah perpustakaan dan toko buku. Meski aku jarang dapat membeli buku bacaan, aku cukup senang dapat melihat-lihat buku2 yang dipajang dan membuka-buka serta membaca sekilas isinya.  Mengisi TTS adalah kegiatan lain yang aku sukai. Pengetahuan yang aku dapat dari membaca ‘teruji’ kala menjawab pertanyaan2 TTS.

 

Setelah kuliah, aku punya target setiap bulan harus membeli satu buku. Aku ingin punya perpustakaan sendiri kelak. Konsekuensinya aku harus mengurangi jatah untuk makan, agar dapat menyisihkan uang untuk membeli buku. Jeleknya aku bila sudah pergi ke toko buku dan membawa cukup uang adalah aku dapat memberi beberapa buku sekaligus tanpa memperhitungkan sisa uang setelah berbelanja buku, cukupkah untuk makan hingga akhir bulan? Apalagi bila ada pameran buku, wah kegiatan borong buku makin menjadi-jadi.

 

Setelah lulus kuliah, kebiasaan membacaku jadi menurun. Buka-buku lebih sering jadi pemancing rasa kantuk, jadi pengantar tidur bagiku. Hal ini berlangsung hingga aku bekerja. Aku masih lebih senang jalan2 ke toko buku dibanding ke mall, aku masih lebih senang membeli buku dibanding beli baju. Namun minat bacaku telah menurun. Belum tentu dalam satu bulan aku dapat menyelesaikan satu buku.

 

Efeknya? Kadang aku jadi merasa otakku buntu. Kala harus menulis laporan, kala harus membuat modul belajar, kala harus menyiapkan bahan ajar, aku tak tahu harus mulai dari mana. Aku tak punya referensi awal untuk mulai menulis. Padahal jika dipikir2, kondisiku jauh lebih baik. Ada cukup dana untuk membeli buku, bahkan jika ingin berlangganan koran/majalah pun pasti bisa. Ada akses internet free tiap hari dari kantor, tapi entah kenapa kok aku malah jadi kurang berminat membaca.

 

Setelah kuliah lagi dan pindah ke bandung pun, kondisinya masih tetap sama. Malah lebih parah. Aku jarang ke toko buku, lebih sering jalan2 di mall. Mulai suka beli baju, walau masih juga beli buku. Tapi seringnya buku-buku tidak selesai aku baca hingga hitungan minggu. Kadang aku bertanya2 dan mikir sendiri, kenapa sekarang aku jadi malas membaca? Seorang teman sampai menyatakan keheranannya waktu aku bilang bahwa aku belum pernah masuk perpustakaan di kampusku. “Bukan nara yang aku kenal” begitu komentarnya.

 

Namun kemarin, aku seakan-akan kembali lagi menjadi diriku yang dulu. Aku merasakan kembali gairah dan kesenangan berada diantara buku-buku. Kemarin aku ke Jakarta, dan bila ke Jakarta tidak lengkap rasanya klo tidak ke kawasan kwitang. Melihat-lihat buku yang dipajang sepanjang jalan, mendengar penawaran dari para pedagang buku, aku seakan menemukan lagi kegembiraan masa lalu kala aku suka memborong buku disini.

 

Masuk ke Gunung Agung, melihat dan membaca2 buku. Mengingat2 judul buku yang menarik hatiku serta berapa harganya, lalu mencarinya di pedagang buku di emperan. Tawar menawar dan membayar. Dengan cara ini aku dapat membeli buku yang kuinginkan dengan harga yang lebih murah. Selisih lima ribu pun lumayan, kali beberapa buku kan akhirnya banyak juga. Setelah itu tak lupa ke Wali Songo. Masih juga urusannya buku. Puas melihat-lihat dan tentu saja membeli buku (yang kayaknya susah aku temui di Bandung), baru terasa kaki sudah pegal dan perutpun terasa lapar. Sudah tiga jam lebih aku ‘wisata buku’. Klo tak ingat aku harus segera kembali ke bandung, ingin rasanya terus berjalan2 di kawasan itu. Tapi berhubung hari sudah berangsur sore, dengan berat hati kutinggalkan kawasan kwitang dan menuju Gambir, untuk selanjutnya kembali ke bandung.

 

Ada sembilan judul buku yang aku beli, sebenarnya sih masih banyak lagi yang ingin aku beli. Namun berhubung anggaran terbatas, akhirnya hanya terpilih kesembilan buku itu diantara sekian banyak yang aku inginkan. Komentar temanku kala aku ceritakan hal ini adalah “Kamu sudah kembali menjadi nara yang aku kenal” hehe….

 

Targetnya, akhir bulan ini kesembilan buku itu harus selesai aku baca.  Mudah-mudahan bisa!



Add a Comment



Add a Comment

<<Home