Catatan Kehidupan
Sarana belajar menjadi pembaca dan penulis
Produktif Kala Patah Hati

Pernah mengalami patah hati? Hidup serasa tak bergairah, malas makan, malas beraktivitas. Atau malah jadi doyan makan hingga tak terkendali? Sering melamun, terbayang atau sengaja membayangkan wajah si dia. Jadi gampang tersentuh bila mendengarkan lagu2, mencocokkan syair lagu dengan apa yang sedang dialami. Ada juga yang menangis semalaman atau berhari-hari. Menyesali keputusan untuk putus (secara ‘baik-baik’ maupun tidak baik). Badan jadi lemas, muka pucat, berat badan menurun drastis (jadi ga perlu repot2 diet deh ).

 

Itu hal yang wajar. Kala patah hati ada kesedihan, ada kekecewaaan mendalam. Ada pemberontakan dalam diri. Ada amarah bahkan tak jarang pula ada dendam. Patah hati dapat menimbulkan energi kebenciaan yang sangat besar, energi kesedihan yang dahsyat. Bahkan keberanian (baca kenekatan) untuk mengakhiri hidup, menggantung diri, menyayat urat nadi hingga menenggak racun serangga. ( patah hati juga tetap serakah, obat buat serangga diserobot juga). Bagaimana mengelola energi negatif ini, mengubahnya untuk selanjutnya menyalurkan untuk hal yang positif? 

 

Seorang teman pernah berkomentar bahwa tulisanku jadi lebih bagus kala aku sedang patah hati. Wah berarti harus membuat aku patah hati dulu agar aku dapat menghasilkan tulisan ‘bermutu’, begitu guarauan kami akhirnya. Kala itu aku memang menyalurkan energi tersebut untuk menulis, mungkin karena menuliskan dengan penuh perasaan jadinya tulisannya jadi hidup. Tulisannya jadi bisa mempengaruhi pembaca untuk ikut larut dan seolah merasakan kesedihan dan ‘rasa tak terima’ yang aku alami. Jadi pertanyaannya kembali lagi, apakah aku harus patah hati dulu baru dapat menghasilkan tulisan yang bagus? Hahaha… ogah dong! Masa patah hati sering2.

 

Fenomena tulisan bagus kala patah hati ini pun aku lihat pada beberapa temanku. Seorang teman pernah mengirimi aku sebuah puisi kala dia sedang patah hati. Puisi yang menggambarkan perasaannya. Perasaan sedih, kecewa karena dikhianati bahkan juga protesnya pada Tuhan atas patah hati yang dia alami. Waktu aku bilang tulisannya bagus, dianya ketawa. Ini puisi pertama yang dapat aku hasilkan, katanya. Wah, jadi selama ini dia tak pernah dapat menulis puisi dan begitu patah hati langsung tercipta puisi yang lumayan bagus.

 

Jadi bila kamu sedang patah hati, sebaiknya ungkapkan saja perasaanmu lewat tulisan. Apapun yang ada dalam hatimu tuliskan saja, umpatan atau sumpah serapah pun boleh. Agar hatimu segera merasa lega dan dapat ‘bangkit’ kembali dari kesedihan. Coba2 aja kirim hasil tulisanmu itu ke media, kali aja dimuat kan bias nambah uang saku tuh. So, produktif kala patah hati, kenapa tidak?



Add a Comment



Add a Comment

<<Home