Sabar… sabar… aku berusaha menenangkan diri kala mendapat pertanyaan yang sama berulangkali. “Bu ini gimana?….. caranya saya lupa…..kok ga muncul?.... Kok error lagi?... Ibu…”. Padahal aku sudah berulangkali menjelaskan, memberi contoh dan meminta mereka mempraktekkan, tapi masih juga ada yang lupa. Atau mungkin aku yang terlalu cepat menyampaikan materi? Bener nih pesen kepala sekolah, ‘Ibu harap maklum ya dengan kondisi disini, banyak bersabar klo ngadepi peserta,bla…bla…’ Ga usah dicritain detailnya deh, biar kamu jadi penasaran. Jadi ingat sebuah pesen yang pernah aku baca di buku “Bicaralah sesuai tingkat kemampuan lawan bicaramu”. Yah, jadinya mesti sering berhenti untuk mikir dulu agar apa yg aku ucapkan bisa mudah dimengerti oleh mereka. Tapi masih aja ada yang bilang bahasanya terlalu tinggi. Bahasa yang tinggi itu yg gimana aku sendiri malah ga ngerti, klo kamu tau kasih tau aku dong.
Asyik ga sih jadi guru? Suatu saat ada temenku yang bertanya. Ya asyik aja, jawabku kala itu, klo merasa ga asyik dinikmati aja, dibawa enjoy, lama2 pasti jadi asyik juga. Jadi pengen merangkum suka dukanya jadi guru. Sukanya jadi guru adalah :
Ada semangat untuk terus belajar, karena merasa harus lebih tau dibanding siswanya. Klo dijaman sekarang sih, dengan banyaknya sarana untuk mengakses informasi, belum tentu guru lebih tau dari murid. Dan sudah bukan masanya lagi guru merasa paling tau sehingga bisa ‘berkuasa’ dikelas. Nah, semangat untuk terus belajar ini muncul karena ada keinginan untuk tidak ketinggalan pengetahuan.
- Ladang amal. “Sebaik2 kamu adalah yang belajar dan mengajarkan…” Semakin banyak yang diajarkan semakin banyak yang kita tahu, ilmu yang diberikan tidak akan berkurang, malah bertambah. Ada yang mengingatkan dikala kita lupa, karena kita pernah menyampaikan suatu hal. Jadi jangan pelit ilmu
- Temannya banyak… Murid2nya bisa jadi teman ngobrol yang mengasyikkan
- Bisa jalan2 keliling indo tanpa keluar biaya dari katong sediri (bagi yang punya kesempatan dan mau memanfaatkannya) kayak aku sekarang ini yang lagi tugas di aceh. Sayangnya ga ada kesempatan jalan2 karena jadwal jam 08.00 – 17.30. Pulang dah capek, malamnya hujan pula. Hari minggu juga peserta minta masuk, jadinya ya a bisa menikmati suasana kota disiang hari. Tapi gpp lah, paling tidak sudah sampe aceh.
- Dapat gaji tiap bulan, punya cadangan dana untuk pensiun
Dukanya jadi guru :
- Kadang nervous juga klo didepan kelas, apalagi klo anaknya pinter2 dan ada yang usil sengaja pengen nguji kemampuan gurunya. Mesti siapin jurus ‘ngeles’ terhadap pertanyaan mereka
Ada beban moral kala anak didiknya tidak berhasil menyerap apa yang disampaikan. Ada tuntutan dari masyarakat untuk tampil ‘sempurna’, karena guru itu kan ‘di gugu lan di tiru’
- Kata banyak orang, gaji guru kecil dan semua orang tahu berapa nilainya. Klo mau ada kenaikan dikit aja, para pedagang dah heboh menaikkan harga barang2 dagangannya








