Catatan Kehidupan
Sarana belajar menjadi pembaca dan penulis
Kekerasan dalam Rumah Tangga
Bila seorang suami menyakiti istrinya, menendang, memukul, menampar atau bentuk kekerasan fisik yang lain yang menyakiti tubuh istrinya, maka orang-orang akan mengatakan sang suami telah melakukan kekerasan terhadap istrinya. Telah terjadi KDRT, istilah yang lagi ngetrend. BIla seorang istri kedapatan memar2 di tubuhnya akibat dipukul suaminya, maka orang2 akan mengatakan si istri telah mengalami KDRT.

Kekerasan dalam rumah tangga, dulu aku beranggapan sama dengan kebanyakan orang, bahwa hal ini terjadi bila suami menyakiti istrinya secara fisik. Entah apa pun penyebabnya, karena cemburu, karena memang tabiatnya keras dan suka memaksa atau apapun sehingga ia melakukan pemukulan terhadap istrinya. Tak banyak wanita yang mau berontak, tak banyak yang punya keberanian untuk melawan. Wanita merasa posisi dirinya lemah, tak berdaya, tak berharga, tak bias melakukan apa-apa bila tak ada suaminya.

Setelah membaca novelnya Danielle Steel bejudul Journey (Perjalanan) barulah wawasanku terbuka. Bahwa kekerasan dalam rumah tangga itu tidak hanya secara fisik, namun dapat juga secara kejiwaan, secara batin. Suami yang selalu ingin ‘menguasai’ istrinya, tidak memberi kesempatan pada istri untuk berinisiatif, untuk berkehendak dan melaksanakan kehendaknya itu, yang selalu mengatur istri, memberikan perintah, menekan bahkan mendoktrin istrinya bahwa ‘tanpa aku kamu tidak berharga!’. Sang istri kadang tidak menyadari bahwa ia telah mengalami kekerasan, karena memang tidak merasa sakit secara fisik. Kecintaan pada suami dan perasaan takut ditinggalkan, takut kehilangan sering membuat istri selalu menurut apa kata suami walaupun dalam hati kecilnya kadang menentang, kadang melancarkan protes. Namun protes itu selalu teredam, terpnedam tanpa pernah terungkap. Jikalaupun protesnya terungkap, maka suami dengan kepandaiannya akan membalikkan protes itu ke istrinya, membuat istri merasa bersalah jika tidak menuruti kata/perintah suami.

Kasus KDRT tidak hanya meninggalkan bekas/trauma bagis istri, namun juga bagi anak-anaknya apabila KDRT (secara fisik) terjadi didepan anak-anak. Anak perempuan, jika ia telah dewasa dan menikah mungkin menganggap wajar jika ssuaminya melakukan kekerasan terhadap dirinya, karena sedari kecil ia telah melihat ayahnya melakukan hal itu pada ibunya. Anak lelaki, setelah menikah merasa wajar memukul istrinya karena sedari kecil ia telah melihat ayahnya melakukan hal yang sama pada ibunya. Jika hal ini terus terjadi, maka di setiap generasi di keluarga itu akan terjadi KDRT. Betapa panjang efeknya!

Bagiamana agar KDRT tidak terjadi? Bukan bagianku menerangkan hal ini. Ini bagiannya para psikolog atau para konsultan pernikahan. Tapi klo menurut aku, berdasarkan ajaran agama yang aku peroleh adalah begini. Sebelum menikah, seorang wanita dapat mengjukan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang lelaki yang ingin menikahinya. Syarat ini tidak boleh bertentangan dengan syariat agama, tidak boleh untuk keburukan, tetapi untuk kebaikan istri setelah mereka menikah lagi. Misalnya saja “selama aku masih menjadi istrimu, dan aku dapat menjalankan kewajibanku dengan baik, maka engkau tak boleh mencari/menikahi wanita lain” atau syarat.

Dalam rumah tangga, ada kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan / menjamin kebahagiaan istri secara lahir dan batin. Kebanyakan orang mengartikan kebutuhan batin itu adalah kebutuhan biologis. Padalah sebenarnya bukan hanya itu. Keinginan untuk disayangi, merasa nyaman dan aman, tidak tertekan itu juga adalah kebahagiaan batin.

Bagaimana jika terlanjur terjadi KDRT? Istri harus berani mengambil sikap, mengingatkan suami (secara langsung maupun melalui orang lain yang disegani oleh suami) tentunya dengan cara yang halus. Bagaimana jika istri tak punya keberanian? Maka istri harus ada yang mendampingi, untuk mendengar keluh kesahnya, memberikan semangat kepadanya, hingga akhirnya istri berani dan dapat mengambil sikan yang tepat.

KDRT? Jangan sampai deh! Semoga dalam rumah tanggaku kelak tidak terjadi hal seperti ini. Semoga suamiku kelak adalah lelaki yang tahu tanggung jawabnya sebagai suami.




Add a Comment



Add a Comment

<<Home